“Libur telah tiba…. Libur telah tiba…..” demikianlah lagu yang didendangkan oleh Amelia (Lana Nitibaskara) ketika hari terakhir sekolah telah berlalu. Walaupun awalnya ia ragu kemana harus mengisi liburannya, namun Amelia tetap gembira menyambut liburan. Kebingungannya akan kemana akan berlibur berakhir ketika pamannya yang berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah mengatakan bahwa ia akan menjemput Amelia ke Jakarta dan mengajaknya berlibur di desa.

Amelia adalah gadis kecil berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah apartemen di Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya. Ia sangat kesepian karena ibunya, Ratna (Astri Nurdin) sibuk bekerja dan mengejar karir. Awalnya ia masih sering bermain-main dengan ayahnya (Agus Kuncoro) yang seorang pelukis sehingga memiliki banyak waktu luang. Namun keadaan semakin memburuk ketika ayah Amelia meninggal karena kecelakaan. Amelia benar-benar sendirian karena ibunya juga semakin giat bekerja untuk menghidupi keluarga.

Karena kesepian, akhirnya Amelia bermain-main dengan jejaring sosial di dunia maya, yaitu facebook. Melalui dunia maya itulah ia bertemu dengan sepupunya, Ambar yang tinggal di Jawa Tengah. Ambar banyak bercerita tentang indahnya alam di desanya termasuk banyaknya kupu-kupu di hutan. Amelia yang mencintai kupu-kupu ingin sekali melihat mereka secara langsung, terutama yang di dalam hutan karena sayapnya berwarna biru. Di tengah keputusasaannya karena tidak bisa berkunjung ke desa, ayah dari Ambar menelepon dan mengatakan bahwa dia akan ke Jakarta untuk mengantarkan barang dagangan sekalian menjemput Amelia untuk berlibur ke desa

Walaupun awalnya sangat berat melepas Amelia, namun akhirnya Ratna mengijinkan Amelia untuk pergi ke desa. Di desa Amelia bertemu dengan Ambar dan keluarga besar ayahnya yang selama ini belum pernah ia temui. Di sana ia juga menemui teman baru yaitu Pandu, Kuncung, dan Hendra. Ia lebih merasa cocok dengan teman-teman barunya ini daripada dengan teman-temannya di Jakarta.

Suatu hari Amelia ingin melihat kupu-kupu bersayap biru yang pernah ditunjukkan Ambar di facebook, namun semua orang melarangnya karena legenda di sana mengatakan bahwa terdapat makhluk jahat bernama Mbah Gondrong hidup di desa itu. Semakin dilarang semakin penasaran, akhirnya Amelia nekat pergi ke hutan itu sendirian. Teman-temannya pun khawatir sehingga mereka membuntuti Amelia masuk ke hutan.

Begitu sampai di dalam hutan, mereka pun lupa jalan pulang dan tersesat. Hingga malam tiba mereka masih tidak bisa menemukan jalan keluar hutan hingga mereka mencium bau ayam bakar dari sebuah gubuk. Ternyata yang menghuni gubuk dan memasak ayam bakar itu adalah Mbah Gondrong yang menjadi legenda. Anak-anak yang ketakutan akhirnya berlari menjauh dari rumah tersebut. Sayangnya Kuncung tertinggal di rumah tersebut sehingga mereka semua kembali dan terjebak di dalam rumah Mbah Gondrong karena Mbah Gondrong menangkap basah mereka.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya anak-anak menginap di rumah Mbah Gondrong dan mereka menyadari bahwa Mbah Gondrong sebenarnya adalah orang baik. Pagi harinya Mbah Gondrong malah menemani mereka bermain dengan kupu-kupu yang selama ini mereka cari. Setelah itu Mbah Gondrong bersedia mengantar mereka hingga ke pinggir hutan.

Dalam perjalanan menuju pinggir hutan, anak-anak dan Mbah Gondrong menangkap basah penjahat yang melakukan ilegal logging. Ternyata penjahat tersebut menyadari keberadaan Mbah Gondrong dan anak-anak sehingga ia memanggil kakek Amelia dan beberapa petugas kepolisian. Namun keadaan berbalik di akhir, penjahat tersebut ditangkap oleh petugas karena ketahuan melakukan ilegal logging. Sedangkan Amelia dan kawan-kawan berhasil kembali ke keluarga mereka masing-masing.

Selama film berlangsung terdapat selingan nyanyian dan tarian dari Amelia dan kawan-kawannya yang membuat penonton dapat mengenang kembali masa kecil mereka. Apalagi lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu ciptaan AT Mahmud yang sangat masyhur. Jujur, film ini sedikit mengingatkan saya pada film Petualangan Sherina yang juga mengusung tema petualangan dan musikal.